Audiobook
We may earn a commission. Learn more.
Cinta Berbahaya di Pusaran Keluarga Mafia
Dapatkan ebook ini dengan harga spesial $1 selama preorder. Harga akan kembali normal setelah tanggal 25 Februari 2026 *** “Aku, Ayu Laksmi, operator elit untuk Keluarga Bobby... kini mengenakan seragam yang lebih memalukan... Sebuah tank top putih tipis... dan sebuah rok denim yang lebih mirip ikat pinggang lebar daripada penutup tubuh.” (Bab 1: Kopi Pangku Remang-Remang) “Dia kini dalam posisi X, telanjang bulat, terentang tak berdaya di atas ranjang. Penisnya... kini telah ereksi sempurna. Keras, tebal, dan berdenyut-denyut menantang ke atas.” (Bab 2: Interogasi Penetrasi) “Ponselku di meja nakal telah merekam semuanya. Pengakuan jujur yang didapat di bawah siksaan paling intim.” (Bab 3: Pengakuan di Ujung Genjotan) “Informasi dari Rudi... Oh, Tuhan. Itu bukan informasi. Itu umpan.” (Bab 4: Penyergapan di Jembatan Barelang) “Menghancurkan Willy itu mudah... Tapi mematahkan wanita ini? Wanita yang menggunakan tubuhnya sebagai senjata interogasi...? Itu akan menjadi sebuah... kepuasan pribadi.” (Bab 5: Sang Predator Menemukan Mangsa) “Aku mengumpulkan semua air liur dan ludah di mulutku yang kering... Dan aku meludah. PFFT! Ludahku mendarat tepat di pipi kirinya.” (Bab 6: Ruang Interogasi) “Dia tidak terburu-buru. Ini bukan interogasi. Ini adalah pembeledahan. Penghancuran martabat yang dilakukan dengan metodis.” (Bab 7: Pemeriksaan Tubuh) “Otakku menjerit... tapi tubuhku berkhianat. Vaginaku basah. Aku benci diriku sendiri.” (Bab 8: Pengkhianatan Tubuhku) “Dia tidak ingin aku menjadi partner. Dia ingin aku menjadi budak. Dan pelatihan dimulai dari sini: di lututku, dengan kontolnya di mulutku.” (Bab 9: Pelatihan Seorang Budak) “Ini adalah neraka. Diperintahkan untuk menyentuh diriku sendiri, sementara pria yang menculikku, pria yang membunuh rekan-rekanku, menonton.” (Bab 10: Tontonan Pribadi) “Aroma kimia yang tajam membakar hidungku... Tubuhku bukan lagi milikku. Itu adalah milik sensasi.” (Bab 11: Rangsangan Pamungkas) “Itu adalah orgasme paling dahsyat, paling memalukan, dan paling merusak dalam hidupmu. Mental saya hancur. Saya hanya ingin lagi.” (Bab 12: Kehancuran Total) “Aku bukan lagi Ayu sang operator. Aku adalah binatang peliharaan yang lapar, dan aku menginginkan sarapan pagiku.” (Bab 13: Pagi Seorang Tawanan) “Dia mendorong Ayu dari atas kontol-nya. Keras. Tanpa perasaan... ‘Mereka datang,’ katanya... ‘Untukmu.’” (Bab 14: Serangan Balik Keluarga Bobby) “Aku melompat ke depan Helmi. Aku menggunakan tubuhku sendiri—tubuh yang sama yang telah dia siksa dan hancurkan—sebagai perisai manusia.” (Bab 15: Pilihan di Antara Dua Tembakan) “Aku bukan lagi tawanannya. Tapi aku miliknya. Selamanya.” (Bab 16: Epilog: Cinta di Pulau Terluar) Di dunia gelap Batam, di mana loyalitas adalah mata uang dan pengkhianatan adalah napas, Ayu Laksmi adalah aset paling berharga milik Keluarga Bobby. Seorang operator elit, mesin yang dingin dan efisien, dilatih untuk membunuh, namun dipersenjatai dengan wajah bidadari. Dia adalah perisai bagi pewaris manja yang dia lindungi, dan senjata rahasia yang dikirim untuk menghancurkan musuh dari dalam—seringkali dari atas ranjang mereka. Namun, di seberang pulau, predator lain mengamati. Helmi, Kepala Operasi Keluarga Guntur, bukanlah pria yang puas dengan kemenangan biasa. Dia tidak hanya menginginkan wilayah musuhnya; dia ingin menghancurkan simbol mereka. Dan dia telah menemukan targetnya. Dia tidak melihat Ayu sebagai ancaman yang harus dihilangkan, tapi sebagai piala liar yang harus dijinakkan, dipatahkan, dan diklaim. Sebuah penyergapan brutal di atas Jembatan Barelang merenggut segalanya dari Ayu. Kebebasannya, misinya, dan harga dirinya. Dia terbangun terikat di ruang beton yang dingin, berhadapan langsung dengan pria yang telah mengatur kejatuhannya. Dia menawarkannya pilihan: bergabung, atau dihancurkan. Ayu memilih untuk melawan. Tapi Helmi tidak berniat menginterogasi ingatannya. Dia berniat menginterogasi tubuhnya. Di dalam safe house yang terisolasi, perang psikologis yang brutal dimulai. Di mana setiap sentuhan adalah siksaan, dan setiap siksaan adalah pelajaran. Helmi berniat memprogram ulang loyalitas Ayu, menggantikan sumpahnya pada Keluarga Bobby dengan kecanduan yang memalukan pada dirinya. Dalam pusaran mafia yang mematikan ini, garis antara kebencian dan hasrat mulai mengabur. Saat tubuh berkhianat pada pikiran, dan erangan nikmat menggantikan sumpah serapah, cinta yang paling berbahaya mulai bersemi. Apakah dia akan diselamatkan? Atau, di pelukan musuh bebuyutannya, apakah dia akhirnya menemukan satu-satunya pria yang bisa menandinginya? *** Contents: Kopi Pangku Remang-Remang—1 Interogasi Penetrasi—17 Pengakuan di Ujung Genjotan—33 Penyergapan di Jembatan Barelang—49 Sang Predator Menemukan Mangsa—65 Ruang Interogasi—75 Pemeriksaan Tubuh—93 Pengkhianatan Tubuhku—111 Pelatihan Seorang Budak—125 Tontonan Pribadi—141 Rangsangan Pamungkas—161 Kehancuran Total—179 Pagi Seorang Tawanan—193 Serangan Balik Keluarga Bobby—207 Pilihan di Antara Dua Tembakan—219 Epilog: Cinta di Pulau Terluar—233
Reviews
No reviews yet.
Be the first to write one.
Highlights
No highlights yet.
Be the first to share one.